Virus nipah berasal dari kelelawar buah dan dapat menular ke manusia. Rajin cuci tangan salah satu kunci untuk pencegahannya.30 Januari 2026 | 15.37 WIB
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai virus Nipah, penyakit zoonosis yang bersifat menular dan mematikan. Hingga saat ini, virus Nipah belum memiliki obat antivirus maupun vaksin, sehingga pencegahan menjadi langkah utama.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan penanganan pasien yang terinfeksi virus ini masih bersifat suportif dan simptomatis, sesuai kondisi klinis masing-masing pasien. “Sampai sekarang belum ada obat dan vaksin untuk virus Nipah. Penanganan dilakukan dengan terapi suportif,” ujar Piprim dalam konferensi pers virtual pada 29 Januari 2026.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Dominicus Husada menjelaskan virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 di sekitar Sungai Nipah, Negeri Sembilan, Malaysia. Virus ini berasal dari kelelawar buah dan dapat menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi, serta melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.
Sejak ditemukan, tercatat lebih dari 800 kasus di dunia dengan angka kematian mencapai 40–70 persen. Meski belum ada laporan kasus pada manusia di Indonesia, virus Nipah telah ditemukan pada populasi kelelawar buah.
Gejala awal infeksi umumnya berupa demam, nyeri kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Pada kondisi berat, virus ini dapat menyerang otak. Karena itu, kelompok berisiko seperti peternak, pengumpul nira, dan tenaga kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan.
IDAI mengimbau masyarakat perlu terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak mengonsumsi nira mentah, mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, serta memastikan daging dikonsumsi dalam kondisi matang. Deteksi dini dan pencegahan dinilai menjadi kunci menghadapi penyakit ini.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa hingga kini virus Nipah belum masuk ke Indonesia. “Memang hari ini belum sampai Indonesia,” ujar Benyamin seperti dilansir Antara pada 29 Januari 2026.
Benyamin menjelaskan jumlah kasus virus Nipah secara global hingga saat ini masih terbatas. Tahun ini, kata dia, hanya terdapat dua kasus yang dilaporkan di India, meskipun tingkat kematian akibat virus tersebut tergolong tinggi. “Jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus. Jadi, belum sampai Indonesia,” kata Benyamin Paulus Octavianus.
Menurut dia, Pemerintah India langsung mengambil langkah penanganan ketat untuk mencegah penyebaran virus ke negara lain. Sementara itu Thailand sebagai negara transit juga telah meningkatkan kewaspadaan melalui skrining. “Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown. Mereka juga tidak mau kasus itu terbang ke negara lain. Tapi Thailand sebagai tempat transit, itu segera jaga-jaga,” ucap Benyamin.
